Covid-19: Pandemi Media Sosial
Dampak pelaporan media dan sentimen publik dapat memiliki pengaruh kuat pada sektor publik dan swasta dalam membuat keputusan untuk menghentikan layanan tertentu termasuk layanan penerbangan, tidak sebanding dengan kebutuhan kesehatan masyarakat yang sebenarnya.
Pembatasan perjalanan atau travelling adalah salah satu contohnya, dan kita perlu membongkar pengaruh media sosial pada tindakan yang membawa kerugian ekonomi yang sangat besar. Variabilitas spatio-temporal dalam diskusi di media sosial, terutama Twitter, seringkali tidak sejalan dengan wabah spasial dan temporal.
Selain mengatasi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan tindakan kesehatan masyarakat untuk memerangi wabah, kita perlu memerangi pandemi kepanikan media sosial. Untuk tujuan ini, penting untuk melakukan analisis spatiotemporal dari wacana dan hubungannya, atau disasosiasi, dengan situasi epidemiologis karena ini akan memungkinkan komunikasi bertarget spatiotemporal dan kampanye intervensi untuk dilaksanakan oleh otoritas kesehatan masyarakat.
Kita perlu dengan cepat mendeteksi dan menanggapi rumor, persepsi, sikap, dan perilaku publik seputar Covid-19 dan langkah-langkah pengendalian. Penciptaan platform dan dasbor interaktif untuk memberikan peringatan rumor dan kekhawatiran tentang penyebaran virus corona secara global akan memungkinkan pejabat kesehatan masyarakat dan pemangku kepentingan yang relevan untuk merespons secara cepat dengan narasi proaktif dan menarik yang dapat mengurangi informasi yang salah.
Pada saat kita tidak memiliki alat lain untuk memerangi Covid-19 selain intervensi nonfarmasi seperti karantina dan jarak sosial, intelijen media sosial harus dimanfaatkan untuk meningkatkan mobilisasi yang dibutuhkan masyarakat dan masyarakat lokal untuk mengikuti prosedur karantina, dengan cepat mengurangi penyebaran ketakuta dan ketidakpastian, dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap tindakan kesehatan masyarakat.