Ganjar Akui Pernah Diberi Uang di Goody Bag tapi Dikembalikan Lagi

Richard Andika Sasamu ยท Kamis, 08 Februari 2018 - 16:47 WIB
Ganjar Akui Pernah Diberi Uang di Goody Bag tapi Dikembalikan Lagi

Mantan anggota Komisi II DPR Ganjar Pranowo yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara e-KTP Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (8/2/2018). (Foto: iNews.id/ Richard Andika)

JAKARTA, iNews.id - Mantan anggota Komisi II DPR Ganjar Pranowo yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dugaan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto. Dalam kesaksiannya, Ganjar mengaku pernah menerima goody bag yang diketahuinya berisi uang.

"Setelah selesai rapat, ada orang nyelonong ngasih goody bag. Biasanya isinya buku, setelah saya lihat saya tahu isinya  uang. Lalu saya bilang, mas ambil nih saya kembalikan," ujar Ganjar di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Namun Ganjar mengaku tidak mengetahui dari mana asal goody bag tersebut. Dia tidak menanyakan siapa orang itu dan tidak mengenalnya. "Tidak saya tanyakan (dari mana). Saya kembalikan, tidak tahu siapa yang menyuruh. Saya tidak kenal dengan orang itu," ucapnya.

Ganjar juga mengaku tidak pernah menerima uang dan fasilitas terkait e-KTP. Meskipun disebut mantan anggota Komisi II DPR, Mustoko Weni yang pernah memberikan fee untuknya.

"Dia menyampaikan pada saya, 'Dek, ini jatahmu'. Ya, pemahaman saya ada sesuatu yang mau diberikan dan kemungkinan uang. Saya bilang tidak usah, istilah bahasa Jawanya pek'en atau ambil saja (buat kamu)," kata Ganjar.


Selain itu, Ganjar juga membantah mengenal Andi Agustinus alias Andi Narogong. Dia menyebut hanya tahu dari pemberitaan di media massa. Namun menurutnya, berita kedekatan Andi dengan Setnov sudah menjadi rahasia umum.

Dalam surat dakwaan jaksa dari KPK terhadap Irman dan Sugiharto, Ganjar disebut menerima suap sebesar USD 520.000. Penerimaan itu diduga terjadi saat Ganjar masih menjadi pimpinan di Komisi II DPR RI.

Ganjar disebut-sebut juga menjadi salah satu pimpinan Komisi II DPR yang ikut dalam pertemuan pada Mei 2010. Pertemuan itu dilakukan sebelum dilakukan rapat dengar pendapat antara Kementerian Dalam Negeri dan Komisi II DPR.

Editor : Azhar Azis