Hadiri Pemeriksaan sebagai Tersangka, Rizal Djalil: Saya Akan Sangat Kooperatif

Ilma De Sabrini ยท Rabu, 09 Oktober 2019 - 11:33 WIB
Hadiri Pemeriksaan sebagai Tersangka, Rizal Djalil: Saya Akan Sangat Kooperatif

Rizal Djalil. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Rizal Djalil memenuhi panggilan pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rizal diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2017-2018.

Pemeriksaan hari ini merupakan penjadwalan ulang pemanggilan sebelumnya pada Senin, 7 Oktober 2019. Rizal memastikan dirinya akan sangat kooperatif menjalani pemeriksaan di KPK.

"Saya pada hari ini sebagai warga negara memenuhi panggilan penyidik dan akan memberikan keterangan apa pun yang dibutuhkan oleh penyidik dan saya membawa semua dokumen yang diminta oleh penyidik dan saya akan sangat kooperatif," katanya saat tiba di gedung KPK, Jakarta, Rabu (9/10/2019).

BACA JUGA:

Dipanggil KPK sebagai Tersangka Suap, Eks Ketua BPK Rizal Djalil Tak Datang

Tersangka KPK, Anggota BPK Rizal Djalil Diduga Terima 100.000 Dolar Singapura

KPK Tetapkan Anggota BPK Rizal Djalil Tersangka Suap Proyek SPAM

Rizal menjanjikan akan terbuka kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan perdananya sebagai tersangka. Bahkan dia telah menyiapkan pantun untuk wartawan.

"Saya nanti setelah diperiksa akan berbicara secara terbuka apa adanya kepada saudara-saudara teman-teman awak media dan saya juga sudah siapkan pantun untuk teman-teman media nanti," ujarnya.

Rizal mengaku akan menjelaskan beberapa hal kepada penyidik KPK dan juga nanti wartawan. Seperti soal penerimaan uang Rp3,2 miliar dan audit BPK.

"Saya akan bicara nanti pertama persoalan uang yang Rp3,2 miliar itu siapa yang menerima? Di mana diserahkan? Saya meminta kepada penegak hukum untuk membuka itu mengungkapkan itu. Yang kedua nanti saya akan menjelaskan apakah benar audit BPK itu diubah, akan saya jelaskan setelah masuk ke dalam," tuturnya.

Mengenai pengaturan proyek di kementerian juga disampaikan Rizal. Termasuk di dalamnya siapa yang bermain dan kebenaran anggota BPK seperti dirinya ikut meminta jatah.

"Saya juga akan menjelaskan kepada teman-teman media nanti masalah yang terkait apakah benar ada orang yang mengatur proyek di kementerian, siapa yang berwenang mengatur proyek di kementerian. Apakah benar sebagai anggota BPK saya meminta memanggil seseorang saya akan jelaskan nanti. Kenapa dia dipanggil, kenapa dia diundang saya akan buka semua laporan yang terkait itu," kata dia.

Selain Rizal, KPK juga telah menetapkan Komisaris Utama (Komut) PT Minarta Dutahutama (MD) Leonardo Jusminarta Prasetyo (LJP) sebagai tersangka baru kasus suap proyek pembangunan SPAM di Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2017-2018. Diketahui dalam pengembangan perkara ini, ditemukan dugaan aliran dana 100 ribu dolar Singapura pada Rizal dari pihak swasta tersebut.

Perkara proyek SPAM itu berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada 28 Desember 2018. Dalam kegiatan tangkap tangan itu, KPK mengamankan barang bukti berupa uang senilai Rp3,3 miliar, 23.100 dolar Singapura, dan 3.200 dolar AS atau total sekitar Rp3,58 miliar. Saat itu, KPK telah menetapkan delapan tersangka.

Sebagai pihak penerima masing-masing Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM Strategis Wilayah IIA Donny Sofyan Arifin, PPK Pembangunan SPAM Strategis Wilayah IB Meina Woro Kustinah, Kepala Satuan Kerja Tanggap Darurat Permukiman Pusat Teuku Mochammad Nazar, dan Kepala Satuan Kerja merangkap PPK Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR Anggiat P Nahot Simaremare.

Selanjutnya sebagai pihak pemberi, yaitu Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE) Budi Suharto, Lily Sundarsih W yang merupakan istri Budi atau Direktur Keuangan PT WKE, Irene Irma yang merupakan anak Budi atau Direktur Utama PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP), dan Direktur PT WKE sekaligus Project Manager PT TSP Yuliana Enganita Dibyo.

Mereka telah diproses di persidangan pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada PN Jakarta Pusat.


Editor : Djibril Muhammad