Jokowi Harus Lebih Tegas Pilih Menteri di Periode Kedua

Abdul Rochim · Kamis, 15 Agustus 2019 - 19:25 WIB
Jokowi Harus Lebih Tegas Pilih Menteri di Periode Kedua

Presiden Jokowi diminta lebih tegas dalam memilih menteri di periode kedua pemerintahannya. (Foto: Antara/Wahyu Putro).

<p>JAKARTA, iNews.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta lebih tegas dalam memilih nama-nama menteri untuk duduk di kabinet mendatang. Kemampuan dan kinerja harus jadi pertimbangan utama, bukan sekadar komposisi parpol-profesional.

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia Arie Djunaedi menilai, Jokowi seharusnya tidak boleh terbebani dengan komposisi kabinetnya. Bagaimana pun kemenangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 lebih ditentukan oleh mesin-mesin partai politik yang berjalan demikian dahsyat.

”Kalau kita bicara soal berapa komposisinya, saya rasa itu hak prerogatif presiden. Namun, Jokowi juga harus mendengar masukan dari parpol karena terpilihnya dia karena “endorse” dari parpol, bukan oleh relawan,” kata Arie dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/8/2019).

BACA JUGA: Jokowi soal Komposisi Kabinet: 55 Persen Profesional, 45 Persen Parpol

Arie mengingatkan, perjalanan Kabinet Kerja saat ini juga harus dijadikan penilaian dalam membentuk kebinet berikutnya. Harapan pemilih maupun nonpemilih sangat besar. Jangan sampai espektasi yang berlebihan ternyata memble di periode kedua.

”Oleh karena itu, siapapun personel kabinet, yang ada prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela. Siapakah sosok yang tepat? Tentu yang gagal jangan dipertahankan, yang punya prestasi dipertahankan,” kata dia.

Terkait pernyataan Jokowi yang juga akan menunjuk menteri usia muda, Arie mengatakan bahwa kematangan seseorang sebetulnya tidak ditentukan dari berapa usia, tapi lebih dilihat dari rekam jejak dan keahlian di bidang yang digelutinya.

Menurut dia, penyusunan kabinet ke depan jauh lebih berat dibandingkan Kabinet Kerja I. Sebab, Jokowi akan menghadapi tantangan yang begitu besar, seperti menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing.

”Ke depan ini era-era disruption, era-era orang mulai kehilangan kerja digantikan oleh mekanisasi, itu jadi tantangan berat Pak Jokowi. Jangan sampai kita membanggakan unicorn, kalau orangnya ditaruh ke kabinet siapa yang megang,” katanya.

Apalagi, sejumlah partai politik juga secara terang-terangan menuntut kepada Jokowi soal jatah menteri. Diawali oleh PKB yang berharap dapat jatah 10 menteri, PDIP yang menjadi pemenang pemilu juga menuntut harus mendapatkan kursi menteri terbanyak.

“Yang jelas masyarakat masih menunggu terus siapa profil kabinet mendatang. Kita berharap ada kerterwakilan juga masyarakat di wilayah timur, Papua, NTT, Sumatera Utara, ini menjadi kabinet Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

Jokowi sebelumnya mengaku telah memiliki pemetaan terkait calon pembantu yang akan mengisi kabinet di periode kedua kepemimpinannya. Menteri dari profesional akan mendapatkan porsi lebih besar. “Ya profesional 55 (persen), 45 (persen) dari parpol,” kata Jokowi ditemui usai Upacara Peringatan Hari Pramuka di Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2019).


Editor : Zen Teguh

TAG : .