Kebangkitan Destinasi Wisata Lokal

Yuswohady ยท Senin, 28 September 2020 - 16:04 WIB
Kebangkitan Destinasi Wisata Lokal

Managing Partner Inventure Yuswohady. (Foto: Sindonews).

Yuswohady
Managing Partner Inventure

INDUSTRI pariwisata merupakan industri yang paling terdampak pandemi corona (Covid-19). Tempat-tempat wisata harus ditutup dalam upaya mencegah persebaran virus. Jadwal penerbangan terpaksa berhenti beroperasi dan hotel-hotel kehilangan okupansi. Dampaknya lay-off atau PHK besar-besaran tak terelakkan.

Situasi ini sangat berkebalikan dengan situasi pada akhir 2019. Industri pariwisata sangat berjaya di era leisure economy, bahkan bisnis yang sukses yakni bisnis yang memberikan leisure experience. Bahkan Indonesia sempat memperoleh penghargaan ITTA (Indonesia Travel dan Tourism Awards) yang merupakan ajang penghargaan tertinggi untuk sektor pariwisata.

Sementara itu dari sisi pendapatan negara di sepanjang 2019, sektor pariwisata bisa menyumbang devisa sebesar Rp280 triliun. Namun dengan adanya pandemi, situasi berubah ekstrem. Sektor pariwisata justru yang paling terpuruk.

Penyebab jatuhnya industri pariwisata yang paling utama yakni pembatasan sosial secara global. Terlebih episentrum virus pertama kali berada di China yang merupakan segmen wisatawan mancanegara paling besar.

Respons pemerintah dalam menangani pandemi di Indonesia turut berpengaruh terhadap sentimen global. Berita terbaru, sebanyak 59 negara menutup akses untuk kunjungan warga Indonesia. Dengan demikian sulit mengharapkan pendapatan negara dari wisatawan mancanegara untuk segera pulih setidaknya sampai satu tahun setelah vaksin diproduksi massal.

Namun di balik krisis yang harus dihadapi, pandemi memberikan ruang untuk bangkitnya ekonomi lokal. Pandemi corona menjadi antitesis globalisasi sehingga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi ekonomi dalam negeri untuk menguasai pasar. Termasuk dalam sektor pariwisata lokal. Covid-19 akan mendorong minat masyarakat untuk berwisata lokal.

Selain preferensi yang berubah ke arah lokal, perilaku wisatawan pun ikut berubah. Saat vaksin diproduksi dan akhirnya bisa diproduksi serta terdistribusi secara massal, Indonesia dan seluruh dunia akan memasuki era dunia next normal di mana perilaku konsumen telah berubah ekstrem.

Salah satu yang paling terlihat terkait dengan perilaku berwisata adalah adaptasi CHSE (cleanliness-health-safety-environment) meningkat. Artinya para pemain di sektor ini harus segera beradaptasi untuk menghadirkan experience berwisata yang aman dan bersih. Termasuk wisata padat kunjungan akan mulai dihindari karena wisatawan menghindari keramaian. Sebagai gantinya, wisata-wisata yang private seperti wisata meditasi di Bali akan semakin booming.

Bagaimana wajah baru pariwisata di era next ormal dan apa saja panduan bagi para pemain di industri ini bisa siap menghadapi era baru?

Kami di Inventure mencoba mengkaji dinamika lanskap bisnis pariwisata dengan melihat perubahan-perubahan makroindustri (changes), peta kompetisi (competition), dan perubahan perilaku konsumen (customer) yang memengaruhi bisnis pariwisata di era next normal. Berikut ini ringkasannya:

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua