Kisah 3 Murid Tjokroaminoto yang Mengambil Jalan Berbeda: Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo

Sindonews ยท Sabtu, 13 Agustus 2022 - 11:32:00 WIB
Kisah 3 Murid Tjokroaminoto yang Mengambil Jalan Berbeda: Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo
Rumah HOS Tjokroaminoto di Kampung Peneleh VII Surabaya yang menjadi pabrik tokoh pergerakan bangsa. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dikenal sebagai guru pemimpin-pemimpin besar Indonesia. Rumahnya di Kampung Peneleh VII, Surabaya pernah menjadi tempat tinggal bagi tokoh-tokoh pergerakan mulai dari Soekarno, Alimin, Muso, Semaoen, Kartosowirjo hingga Tan Malaka.

Tjokroaminoto merupakan tuan rumah yang memegang kendali di Kampung Peneleh. Dia dikenal dengan pidato yang menyentuh hati untuk menggerakkan massa, peracik siasat yang jitu, serta bapak pergerakan nasional yang ulung.

Kampung Peneleh menjadi markas utama bagi Tjokroaminoto untuk membakar semangat bangsa Indonesia melawan kolonial. Ketika dirinya memutuskan untuk menentang karakter feodal, Tjokroaminoto memilih jalan di luar kemapanan.

Rumah Tjokroaminoto tak begitu luas, ada ruang tamu yang di dalamnya terdapat kursi terbuat dari kayu jati. Bagian depan rumah didiami Tjokroaminoto bersama istrinya Soeharsikin serta empat anaknya Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, dan Sujud Ahmad.

Sementara bagian belakang dibuat kamar-kamar berukuran kecil yang ditepati para tokoh pergerakan.

Tiap malam, di Kampung Peneleh diskusi selalu digelar. Tjokroaminoto memberikan kebebasan bagi penghuni kosnya untuk menelurkan gagasan kemerdekaan. Membumikan siasat perlawanan pada kolonial. Dalam satu diskusi mereka kerap melempar argumentasi dan gagasan yang dianggap tak biasa.

Tjokroaminoto yang menjadi simpul serta rotasi gerakan massa selalu didatangi para tokoh kemerdekaan. Melalui gerbong Sarekat Islam (SI), Tjokroaminoto menjadi motor gerakan massa pertama paling progresif di Indonesia saat itu.

Namun, Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo memiliki pemikiran dan mengambil jalan perjuangan yang berbeda. Soekarno membentuk Partai Nasional Indonesia, Semaoen mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Kartosoewirjo berjuang melalui Darul Islam.

1. Soekarno

Soekarno selalu mengingat salah satu pesan Tjokroaminoto.

"Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulis lah seperti wartawan, dan bicara lah seperti orator," kata Tjokroaminoto.

Editor : Rizal Bomantama

Bagikan Artikel:








Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda