Kisah Paspampres Jadi Perisai Hidup di Sarajevo, Kawal Pak Harto di Antara Bidikan Sniper dan Meriam

Sucipto ยท Sabtu, 17 Juli 2021 - 10:09:00 WIB
Kisah Paspampres Jadi Perisai Hidup di Sarajevo, Kawal Pak Harto di Antara Bidikan Sniper dan Meriam
Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin mengawal Presiden Soeharto saat kunjungan ke Sarajevo, Ibu Kota Bosnia Herzegovina tahun 1995. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Kisah heroik dan keberanian Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) menjadi tameng hidup bagi orang nomor satu di Republik Indonesia seringkali kita dengar. Ibarat kata, seluruh bagian tubuh mereka terus awas dengan keadaan sekitar demi melindungi kepala negara sesuai dengan moto Paspampres yaitu "Berani Setia Waspada".

Tugas berat dan penuh risiko itu pernah dijalani Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin saat mengawal Presiden Soeharto berkunjung ke Sarajevo, Ibu Kota Bosnia Herzegovina pada 1995 silam. Saat itu, negara pecahan Yugoslavia ini tengah dalam keadaan genting akibat perang saudara dengan Serbia.

Dari buku berjudul "Pak Harto: The Untold Stories", pria yang pernah menjabat Komandan Grup A Paspampres itu menceritakan bagaimana dirinya berupaya melindungi Presiden Soeharto dari ancaman penembak jitu atau sniper. Jenderal senior di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu mengungkapkan ketika itu tidak ada satu pun utusan di PBB yang dapat menjamin keselamatan Soeharto ketika hendak ke Bosnia.

Apalagi ketika itu, pria yang pernah menjabat sebagai Komandan Nanggala X Timor-Timur 1976 mendapat informasi pada 11 Maret 1995, pesawat PBB yang membawa utusan khusus PBB Yasushi Akashi ditembak jatuh ketika melintasi langit Bosnia.

Informasi itu disampaikan kepada Presiden Soeharto. Namun Soeharto bergeming, dia tetap nekat dan bersikeras ingin melanjutkan lawatannya ke Bosnia.

Kebulatan tekad Soeharto mengunjungi Bosnia membuat PBB meminta Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Moerdiono dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Ali Alatas yang turut mendampingi agar membujuk Presiden Soeharto untuk mau menandatangani surat pernyataan yang isinya PBB tidak bertanggung jawab jika selama kunjungannya ke Bosnia terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tanpa keraguan, Soeharto langsung menandatangani surat tersebut dan melanjutkan perjalanannya ke Bosnia dengan menggunakan pesawat carteran Rusia.

Editor : Rizal Bomantama

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda