Lawan Vonis Bebas Sofyan Basir, KPK Serahkan Memori Kasasi

Aditya Pratama ยท Jumat, 29 November 2019 - 03:00 WIB
Lawan Vonis Bebas Sofyan Basir, KPK Serahkan Memori Kasasi

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah. (Foto: Antara).

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyerahkan memori kasasi terhadap vonis bebas mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir. Penyerahan dilakukan melalui panitera Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, dalam memori kasasi ini diserahkan pula dua tambahan bukti prinsip, yakni 12 keping compact disc (CD) berisi rekaman sidang di Pengadilan Tipikor. Selain itu, berkas acara pemeriksaan (BAP) Sofyan Basir saat memberikan keterangan dalam penyidikan dengan tersangka Eni Maulani Saragih pada 20 Juli 2018

Febri mengatakan, dengan tetap menghormati putusan pengadilan tingkat pertama lalu, KPK memutuskan mengajukan kasasi karena berpandangan vonis Sofyan Basir bukan bebas murni.

"Kami melihat, majelis hakim mengakui dalam pertimbangannya bahwa terdakwa Sofyan Basir telah terbukti melakukan perbuatan memberikan kesempatan, sarana dan keterangan untuk mempercepat proses kesepakatan PLTU MT Riau-1," kata Febri di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Mantan Dirut PLN Sofyan Basir (tengah). (Foto: Antara).

Febri menjelaskan, dalam persidangan majelis hakim sependapat dengan adanya perbuatan-perbuatan terdakwa Sofyan Basir berupa memberikan sarana, kesempatan dan keterangan sebagaimana telah diuraikan.

Namun, majelis hakim berpendapat karena Sofyan tidak mengetahui akan adanya penerimaan suap oleh Eni Maulani Saragih dari Johanes Budisutrisno Kotjo, terdakwa Sofyan tidak terbukti melakukan tindak pidana pembantuan.

"Sehingga, semestinya jika majelis hakim berpendapat seperti itu, seharusnya putusan yang dihasilkan adalah putusan lepas (ontslag)," ucap Febri.

Dari hasil analisis, kata Febri, KPK menemukan sejumlah bukti dan fakta yang belum dipertimbangkan majelis hakim tingkat pertama di Pengadilan Tipikor.

Pertama, keterangan Eni Saragih bahwa dia pernah menyampaikan pada Sofyan Basir jika dia ditugaskan oleh Setya Novanto untuk mengawal proyek Johanes Kotjo guna mendapatkan proyek pembangunan PLTU Riau-1 demi kepentingan pengumpulan dana partai.

Selanjutnya, Eni juga meminta Sofyan bertemu Novanto. Pertemuan akhirnya terjadi dan di sana ada pembicaraan agar proyek PLTU 35.000 Megawatt di Jawa dikerjakan oleh Kotjo.

Menurut Febri, Eni Saragih juga menyampaikan bahwa Sofyan pernah berpesan agar ‘anak-anaknya’ di PLN diperhatikan juga oleh Kotjo.

"Terdapat kesesuaian bukti keterangan tersebut dengan Whatsapp antara Eni dan Johannes Kotjo, termasuk bagian percakapan “SB: anak2 saya di perhatikan jg ya biar mereka happy”, ucapnya.

Selain itu, KPK juga menguraikan bahwa dalam membuktikan pembantuan sesuai Pasal 56 ke-2 terdakwa tidak harus ikut menerima fee. Jika Sofyan menerima fee, Febri menyebut yang bersangkutan dapat diproses karena melakukan penyertaan, bukan sekedar pembantuan.

"KPK berharap sejumlah fakta-fakta dan bukti yang sudah muncul di persidangan dapat dipertimbangkan secara substansial dan agar Majelis Hakim Agung dapat menggali kebenaran materil dari perkara ini," kata dia.

Editor : Zen Teguh