Menteri KKP Trenggono Bentuk Satgas Berantas Penyelundupan Lobster, Bidik Potensi Rp17,9 Triliun
Trenggono menyayangkan besarnya potensi kekayaan laut tersebut belum diikuti kemampuan industri budi daya lobster nasional untuk mengoptimalkannya. Padahal, pengembangan budi daya di dalam negeri berpeluang meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan sekaligus membuka peluang penerimaan negara.
Dia menyebut, pemerintah telah melakukan sejumlah uji coba budi daya lobster di berbagai wilayah, termasuk Batam dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, tingginya permintaan benih lobster dari negara tetangga menjadi tantangan karena nelayan cenderung menjual benih daripada membesarkannya hingga siap panen.
"Kebutuhan akan BBL yang dibutuhkan oleh negara tetangga kita yang sangat besar, itu yang menyebabkan masyarakat kita dengan mudahnya segera menjual benih bening lobster itu daripada dibesarkan yang butuh waktu dan biaya yang besar," tuturnya.
Selain permintaan yang tinggi, perbedaan harga di dalam dan luar negeri turut mendorong penyelundupan. Trenggono menyebut harga BBL di tingkat nelayan Indonesia berkisar Rp8.500 per ekor, sedangkan di Vietnam mencapai Rp35.000 hingga Rp50.000 per ekor.
Bahkan, harga benih lobster di Vietnam berpotensi naik hingga Rp100.000 per ekor apabila pasokan semakin terbatas. Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat penjualan ke luar negeri lebih menarik dibandingkan pengembangan budi daya di dalam negeri.