Penuhi Panggilan KPK, Imam Nahrawi: Saya Siap Menghadapi Takdir Ini

Ilma De Sabrini ยท Jumat, 27 September 2019 - 11:40 WIB
Penuhi Panggilan KPK, Imam Nahrawi: Saya Siap Menghadapi Takdir Ini

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi tiba di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/9/2019). (Foto: iNews.id/Ilma de Sabrini).

JAKARTA, iNews.id - Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memenuhi panggilan penyidik KPK. Imam yang diperiksa perdana sebagai tersangka kasus dugaan suap dana hibah Kemenpora kepada KONI tahun 2018 ini, mengaku siap menghadapi takdir.

Imam tiba di Gedung Merah Putih KPK sekitar pukul 10.09 WIB. Mantan sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini tiba didampingi dengan sejumlah petugas keamanan. Dia tampak mengenakan kemeja yang dibalut dengan jaket batik berwana oranye.

Imam tampak santai memasuki loby KPK. Sebelum masuk ke kantor KPK, Imam menyatakan dirinya siap menghadapi pemeriksaan ini. "Saya, bismillahirrohmanirrohim saya siap menghadapi takdir ini karena setiap manusia pasti menghadapi takdir," kata Imam di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/9/2019).

"Demi Allah demi rosulullah. Allah maha baik dan takdirnya tak pernah salah," ujar Imam Nahrawi.

Untuk kasus ini KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap satu orang yaitu Atun sebagai PNS di Kemenpora. Dia diperiska sebagai saksi.

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MIU (Miftahul Ulum) terkait kasus dana hibah Kemenpora," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jumat (27/9/2019).

Dalam kasus ini mantan Menpora Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka bersama Asisten Pribadinya Miftahul Ulum pada 18 September 2019.

Imam Nahrawi diduga meminta uang Rp11,8 miliar dalam rentang waktu 2016-2018, sehingga total dugaan penerimaan sebesar Rp26,5 miliar. Uang itu merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora Tahun Anggaran 2018. Sedangkan, Miftahul Ulum diduga turut membantu menpora dalam penerimaan uang haram tersebut.

Editor : Djibril Muhammad