Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.127 per Dolar AS, Sentuh Level Terendah
Sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan dialog antara Iran dan AS masih berlangsung, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan.
Sementara, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor di tengah apa yang mereka gambarkan sebagai guncangan paling signifikan yang pernah terjadi di pasar energi global.
Dari sentimen domestik, di tengah meningkatnya ketidakpastian global membuat dunia usaha dalam fase wait and see, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Penurunan ekspektasi kegiatan bisnis dan stagnasi penjualan mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengambil keputusan ekspansi. Meski demikian, ekspansi bisnis dinilai tidak berhenti, tetapi mengalami penyesuaian strategi.
Pelaku usaha cenderung menahan ekspansi besar yang bersifat padat modal, sambil fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Investasi juga mulai dialihkan ke sektor yang dinilai lebih resilien, seperti pangan, energi, dan digital.
Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi, antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.120-Rp17.170 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama