Dijanjikan Kerja di Jepang, 6 Calon PMI di NTB Nyaris Jadi Korban Perdagangan Orang
Untuk mengikuti program tersebut, setiap korban diminta membayar biaya pendaftaran dengan nominal berbeda. Besarannya mulai dari Rp12,5 juta hingga Rp22,5 juta.
Dari praktik itu, tersangka diduga memperoleh keuntungan sekitar Rp95 juta. Uang tersebut berasal dari pembayaran para korban yang berharap bisa berangkat bekerja ke Jepang.
Untuk meyakinkan korban, tersangka diduga memberikan pelatihan bahasa, membagikan seragam, serta kartu identitas pelatihan. Cara tersebut membuat para korban percaya bahwa proses penempatan kerja berjalan resmi.
Namun, hingga waktu yang dijanjikan, keberangkatan para calon pekerja migran tidak pernah terealisasi. Para korban justru beberapa kali dipindahkan dari satu lokasi penampungan ke lokasi lainnya tanpa kepastian jadwal keberangkatan.
“Modusnya sama, mulai dari perekrutan, pelatihan hingga janji penempatan kerja. Namun para korban justru dipindah-pindahkan tanpa adanya kejelasan keberangkatan,” kata Ni Made Pujewati.