Fashionable dengan Tencel, Material Pakaian Ramah Lingkungan Terbuat dari Alam

Vien Dimyati ยท Selasa, 01 Oktober 2019 - 19:30 WIB
Fashionable dengan Tencel, Material Pakaian Ramah Lingkungan Terbuat dari Alam

Memilih pakaian dengan bahan baku ramah lingkungan (Foto : Eco Warrior Princess)

JAKARTA, iNews.id - Sustainable clothing belakangan ini sedang digemari milenial pencinta lingkungan. Terutama bagi para desainer. Tidak sedikit bagi mereka memilih bahan baku alam yang ramah lingkungan untuk dijadikan pakaian yang fashionable.

Salah satu bahan baku untuk pakaian yang populer dipakai milenial dan desainer adalah tencel. Mirip dengan linen mampu menyerap seperti kapas.

Marketing & Branding Manager Lenzing di Plaza Indonesia, Mariam Tania mengatakan, tencel merupakan bahan baku untuk pakaian yang sangat ramah lingkungan. Bahan ini tidak mengandung chemical dan dapat terurai dalam 14 minggu.

"Bahan tensel berasal dari alam. Dari pohon yang sudah tersertifikasi. Kemudian diproses menjadi fiber dan dipintal menjadi benang. Pohon yang dipakai juga bukan dari hutan lindung, melainkan hutan industri. Artinya pohon yang ditebang dan ditanam jumlahnya sama," kata Tania, di Jakarta, belum lama ini.

Untuk mendukung penggunaan bahan baku ramah lingkungan ini deretan desainer muda Indonesia kerap menyajikan karya-karyanya. Salah satunya melalui Plaza Indonesia Men's Fashion Week (PIMFW) 2019. Pada 26-27 September 2019 lalu enam desainer menampilkan koleksi dengan mengusung tema Eco Age.

Mereka menggunakan Tencel dan Lenzing Ecovero. Enam desainer tersebut, yaitu Studio Moral, No’om No’mi, Rigio, Amotsyamsurimuda, Wilsen Willim, dan Danjyo Hiyoji.

Menurut Tania, serat Tencel dan Lenzing Ecovero memiliki berbagai nilai lebih, seperti sifatnya yang organik dan sustainable. Kain dengan serat ini memiliki sirkulasi udara yang baik, membuat pakaian nyaman dipakai dan mampu menjaga kelembapan dan kesehatan kulit.

Selain itu, kain yang terbuat dari serat Tencel dan Lenzing Ecovero memiliki warna yang lebih hidup, halus, dan juga bersifat biodegradable (dapat terurai).

Head of Corporate Affairs dari PT. South Pacific Viscose, Widi Nugroho Sahib mengatakan, topik sustainability sangat tepat diangkat saat ini. "Kita harus melihat juga, bahan baku ini tidak hanya dari hutan, tetapi juga dilihat dari proses produksi. Mulai dari emisinya. Ada yang ke udara, air, dan tanah. Kami konsen dengan mencari teknologi serat tencel yang bisa biogradable. Dengan demikian, masyarakat mulai sadar peduli lingkungan dengan mengenakan bahan baku pakaian tencel," kata Widi.

Menurutnya, jika pakaian yag mengandung tencel dibuang ke tanah, itu akan terurai tanpa membuat pencemaran. Proses teknologi ini sudah menjadi standar global di semua pabrik Lenzing di dunia.

Bahkan, Lenzing AG melalui salah satu anak perusahaannya yaitu PT South Pacific Viscose terus mewujudkan sutainability di Indonesia. Salah satunya, melalui komitmennya merampungkan normalisasi Sungai Citarum dengan melakukan pengerukan sedimen lumpur di tepi sungai.

Widi menambahkan, industri fashion menjadi penghasil terbesar kedua dalam pencemaran lingkungan. Maka itu, dia berharap agar milenial menjadi agent of change menggunakan produk sustainable.

"Bahan baku tencel yang digunakan oleh Lenzing berasal dari pulp hutan yang ada di AS, dan belahan dunia lain. Untuk Indonesia, pulp masih impor untuk penuhi standar. Untuk menjaga lingkungan, milenial hingga desainer sudah mengarah ke bahan baku ramah lingkungan," kata Widi.


Editor : Vien Dimyati