Harus Jadi Bahan Introspeksi
Pakar IT Institut Teknologi Bandung (ITB) Basuki Suhardiman menilai sistem IT perbankan di Indonesia relatif aman dan bagus. Itu terbukti, bank di Indonesia tidak pernah kebobolan seperti beberapa kali terjadi di negara lain.
Dia mencontohkan kasus pembobolan bank melalui jaringan internet di Korea Selatan dan India.
“Yang sekarang harus dilakukan adalah memperkuat audit reguler satu tahun sekali secara internal dan lima tahun sekali oleh eksternal," kata Basuki.
Kasus perbaikan sistem IT di Bank Mandiri yang sempat menimbulkan masalah, ujar Basuki, seharusnya tidak terjadi jika bank tersebut melakukan audit berkala terhadap sistem IT-nya.
"OJK dan BI sebagai pengawas harus mendorong perbankan di Tanah Air melakukan itu (audit berkala terhadap sistem IT) sebab sistem keamanan IT setiap saat berkembang. Audit reguler merupakan bentuk proses transparansi dan penjaminan," ujar wakil direktur Sistem dan Teknologi Informasi ITB ini.
Di Indonesia, tutur Basuki, sebagian besar bank menggunakan ISO 2701 atau standar keamanan IT. Beberapa bank swasta telah menerapkan ISO 2701. ISO 2701 merupakan sistem keamanan informasi yang cukup rigid. Namun, seharusnya bukan sekadar menggunakan ISO 2701 tanpa melakukan perkuatan-perkuatan.
Standar keamanan IT ISO 2701 cukup lengkap, baik jaringan, arsitektur, pengaturan orang, siapa yang boleh review security, maupun login system. Jika dijalankan secara tepat, risiko-risiko seperti itu bisa dikurangi.
"Jika bank tidak melakukan audit reguler, tentu akan menimbulkan risiko, risk analysis harus dilakukan. Kehati-hatian harus diutamakan. Bank itu jualannya trust, kepercayaan. Orang kehilangan uang satu rupiah saja ramai," ungkapnya.
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo meminta supaya perbankan mempunyai sistem backup yang andal untuk menjaga kepercayaan nasabah. Kejadian gangguan saat sistem perbankan dinilai merugikan konsumen karena tiba-tiba rekening tabungan nasabah tidak sesuai saldo yakni ada yang berkurang dan ada juga yang bertambah.
“Jadi sekarang yang harus diperbaiki itu backup sistemnya. Backup juga harus yang andal supaya tidak merugikan nasabah,” ujarnya.
Menurut dia, meski hanya 10% nasabah yang terkena dampak tersebut, tidak bisa dianggap sepele oleh Bank Mandiri. Pasalnya jika pelayanan perbankan tidak lekas diperbaiki, maka akan menghancurkan kepercayaan konsumen.