Gubernur Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina. (Foto: Reuters)
Jeanny Aipassa

MOSKOW, iNews.id - Cadangan emas dan valuta asing (valas) milik Rusia yang dibekukan Barat tercatat mencapai 300 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp4.303 triliun.

Gubernur Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina, mengatakan pihaknya berencana untuk mengambil tindakan hukum atas pemblokiran emas, valas, dan aset milik warga Rusia. 

"Sanksi Barat telah membekukan sekitar 300 miliar dolar AS dari sekitar 640  miliar dolar AS yang dimiliki Rusia dalam cadangan emas dan valasnya," ujar Nabiullina, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (19/4/2022).

Menurut dia, sanksi Barat tersebut mempengaruhi pasar keuangan, dan mulai mempengaruhi perekonomian. Masalah utama akan terkait dengan pembatasan impor dan logistik perdagangan luar negeri, dan di masa depan dengan pembatasan ekspor.

Terkait dengan itu, lanjutnya, perusahaan-perusahaan Rusia perlu beradaptasi dengan mencari mitra baru. Bank Sentral Rusia sedang mempertimbangkan untuk membuat penjualan valas oleh eksportir lebih fleksibel.

“Produsen Rusia perlu mencari mitra baru, logistik, atau beralih ke produksi produk generasi sebelumnya. Eksportir perlu mencari mitra baru dan pengaturan logistik dan “semua ini akan memakan waktu,” kata Nabiullina.

Pada Februari 2022, Rusia memerintahkan perusahaan pengekspor, termasuk beberapa produsen energi terbesar dunia dari Gazprom hingga Rosneft, untuk menjual 80 persen pendapatan valas mereka di pasar.

Dia menjelaskan, Bank Sentral Rusia memiliki hak untuk campur tangan di pasar mata uang terbatas. Bank dapat melunakkan ketentuan waktu dan volume penjualan wajib.

Analis menilai pernyataan Nabiullina secara tidak langsung ditargetkan untuk mencegah penguatan rubel. Tetapi mata uang Rusia melanjutkan kenaikan pada Senin (18/4/2022), menguat ke 81,4025 terhadap euro, level yang terakhir terlihat pada 8 April 2022. 

Penguatan rubel dibantu oleh pembayaran pajak mendatang yang akan mendorong perusahaan yang berfokus pada ekspor untuk mengubah pendapatan FX menjadi rubel untuk memenuhi kewajiban mereka.


Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT