Terapkan Sistem Urun Biaya, Defisit Keuangan BPJS Akan Tetap Besar?

Isna Rifka Sri Rahayu
Ilustrasi. (Foto: Okezone)

Menurut dia, defisit tersebut wajar terjadi mengingat keberadaan BPJS Kesehatan sejak 1 Januari 2014 membuat masyarakat berbondong-bondong mencicipi fasilitas kesehatan yang murah dari pemerintah. BPJS Kesehatan pun menjadi andalan ketika masyarakat sakit parah maupun sakit ringan.

"Defisit keuangan BPJS saya kira wajar, masyarakat kita masih euforia mendapatkan pelayanan kesehatan dengan begitu mudah. Defisit akan berangsur turun ketika masyarakat mulai sadar hidup sehat dan juga sadar untuk membayar iuran," ucapnya.

Dengan membengkaknya defisit tersebut, di satu sisi pemerintah tidak mungkin mencabut komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan ini. Namun, di sisi lain pemerintah juga tidak bisa memaksa dan mengubah perilaku masyarakat menjadi sadar hidup sehat dan membayar iuran BPJS Kesehatan dalam waktu singkat.

"Dalam jangka pendek yang bisa dilakukan mengenakan iuran untuk mencegah perilaku moral hazard. Dengan kata lain defisit BPJS itu keniscayaan yang bisa dilakukan adalah meminimalkan sambil terus berupaya memperbaiki kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan juga bayar iuran," tuturnya.

Editor : Ranto Rajagukguk
Artikel Terkait
8 hari lalu

BPJS: Pembiayaan Penyakit Ginjal Capai Rp7 Triliun hingga Juni 2026

22 hari lalu

Bantah Layanan Psikolog Puskesmas di Jakarta Tak Lagi Dicover BPJS? Ini Klarifikasi Pemprov DKI

22 hari lalu

Wamenkes Bantah Layanan Psikolog di Puskesmas Tak Lagi Dicover BPJS: Itu Hoaks!

1 bulan lalu

Megawati Minta Program BPJS Tak Diutak-atik: Saya Bikin buat Rakyat Jelata yang Sakit

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal