Utang Pemerintah Tembus Rp7.123,62 Triliun, Ekonom Beberkan Risikonya

Advenia Elisabeth
Direktur Celios, Bhima Yudhistira. (Foto: dok iNews)

Menurut dia, beban bunga utang yang mahal menjadi salah satu titik kritis dari kondisi utang nasional. Yang menjadi titik kritis dari kondisi utang adalah beban bunga utang yang mahal, sementara kemampuan membayar utang tidak sebanding dengan kecepatan penerbitan utang baru.

"Selain itu, pemanfaatan dari utang masih terjebak pada belanja yang tidak produktif," ujar Bhima. 

Dia juga menyoroti soal kemampuan negara dalam membayar utang. Hal itu bisa dicek dari posisi Debt Service Rationya (DSR) yang sudah mencapai 39,2 persen berdasarkan data terakhir. 

"Filipina dengan rating utang yang lebih baik yakni BBB+ hanya memiliki DSR 10,1 persen dibanding Indonesia dengan rating BBB memiliki DSR 39,2 persen. Semakin tinggi DSR artinya kemampuan bayar utang dari penerimaan ekspor cenderung melemah," ungkap Bhima.

Terkait pemanfaatan utang, lanjutnya, porsi belanja pemerintah untuk belanja barang dan belanja pegawai masih tinggi sehingga dipersepsikan utang untuk hal yang kurang produktif. Sementara pembiayaan utang untuk infrastruktur pun menuai masalah. 

Editor : Jeanny Aipassa
Artikel Terkait
Makro
9 hari lalu

ORI029 Resmi Diluncurkan, Kemenkeu Bidik Dana Segar Rp25 Triliun untuk Perkuat APBN

Nasional
20 hari lalu

BI: Utang Luar Negeri RI Turun Jadi Rp7.152 Triliun per November 2025

Makro
22 hari lalu

Utang Pemerintah Diprediksi Tembus Rp9.645 Triliun, Ekonom Ingatkan Risiko Gagal Bayar 2026

Nasional
24 hari lalu

Rupiah Sepekan Anjlok ke Rp16.819 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal