Menurut Sherina, pendekatan tersebut memberinya kesempatan untuk mempelajari Stoisisme dari perspektif yang berbeda. Dia tidak ingin terlalu bergantung pada pengetahuan sebelumnya, melainkan mengikuti proses pembelajaran yang dialami Nea sepanjang cerita.
"Jadi buat aku ini adalah pengalaman yang bukan yang susah gitu, tapi sangat eye-opening untuk pembelajaran aku juga sebagai aktor, tapi juga mempelajari ulang prinsip-prinsip Stoicism dari kacamatanya Nea," tuturnya.
Pengalaman tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Sherina dalam mengeksplorasi emosi. Meski mengaku tidak asing dengan tangisan dalam kehidupan sehari-hari, dia menyadari ada perbedaan ketika harus menampilkan perasaan tersebut di hadapan kamera.
"Menjawab pertanyaan tadi, seberapa berat memerankan Nea, aku rasa tiap peran itu pasti ada challenges-nya. Kalau tadi bilang mengeksplorasi range emosi baru gitu ya, sebenarnya sih itu baru karena ditampilkan di publik. Kalau di rumah sendiri, nangis juga sering, ya nggak, kan? Cuman sekarang ada Mas Fandi nemenin di kamera," ujar Sherina.
Di luar proses pendalaman karakter, persoalan PHK yang menjadi bagian penting dalam cerita turut mengusik perhatian Sherina. Dia mengaku prihatin melihat banyak pekerja yang harus menghadapi ketidakpastian pekerjaan, termasuk mereka yang memiliki pendidikan dan kemampuan mumpuni.