Menurut Meutya, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena banyak jurnalis laki-laki dari berbagai negara juga mengalami risiko serupa di wilayah konflik. Meski begitu, dia menegaskan semua tantangan tersebut justru memperkuat mental dan keberaniannya sebagai jurnalis.
Meutya mengakui, keteguhan itu tak lepas dari inspirasi Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia yang juga telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Dia menyebut Roehana sebagai simbol perjuangan panjang jurnalis perempuan yang telah dimulai sejak lebih dari seabad lalu.
"Dan ini mengingatkan saya memberi kekuatan saya, rasa bagi kita semua bahwa perjuangan itu ada dari sejak tahun 1911 bahkan sebelumnya,” ujar Meutya.
Dia menilai Roehana Koeddoes sebagai pionir yang membuka jalan bagi perempuan untuk bersuara di dunia pers, sekaligus menjadi pemantik semangat bagi jurnalis perempuan di era digital saat ini.
"Ibu Roehana Koeddoes menjadi pionir yang membuat kita semua harus terus semangat di era saat ini,” ujarnya.