Situasi ini berisiko memicu kebiasaan ngemil berlebihan, terutama makanan tinggi gula dan lemak. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak pada peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme.
3. Kadar Gula Darah Tidak Stabil
Inilah dampak yang paling berbahaya. Serat, terutama serat larut, berperan memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Tanpa cukup serat, lonjakan gula darah setelah makan bisa terjadi lebih tajam.
Dalam jangka panjang, gula darah yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko resistensi insulin hingga diabetes tipe 2. Karena itu, mencukupi asupan serat menjadi langkah penting untuk membantu tubuh mengatur kadar gula darah secara alami.
4. Kesehatan Usus dan Mikroba Terganggu
Serat juga menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di usus. Kekurangan serat dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus yang berperan penting dalam pencernaan dan daya tahan tubuh.
Jika sering mengalami kembung, gangguan pencernaan, atau rasa tidak nyaman di perut tanpa sebab yang jelas, kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa bakteri baik di usus tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.
Untuk mencegah berbagai risiko tersebut, masyarakat disarankan mulai melakukan perubahan sederhana dalam pola makan. Pilih buah dan sayuran utuh seperti apel, pir, semangka, dan brokoli, serta mengganti nasi putih dengan beras merah atau roti gandum utuh.
Kacang-kacangan juga menjadi sumber serat yang baik sekaligus kaya nutrisi. Selain itu, pastikan asupan cairan tercukupi karena serat bekerja optimal jika didukung hidrasi yang cukup untuk membantu proses pencernaan.