Pendiri Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci), Ajeng Satiti Ayuningtyas, menekankan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya melalui penjelasan atau teori. Anak juga belajar dari perilaku yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah dan mematikan lampu ketika tidak digunakan, dapat menjadi contoh konkret bagi anak tentang bagaimana kepedulian diwujudkan melalui tindakan.
Melalui kegiatan tersebut, anak dapat memahami bahwa ada hal-hal yang bisa dilakukan sesuai kemampuan mereka. Orang tua pun tidak perlu selalu memberikan penjelasan panjang tentang persoalan lingkungan, tetapi dapat mengajak anak terlibat dalam kebiasaan positif secara konsisten.
Ajeng juga menyoroti pentingnya komunitas literasi sebagai ruang bagi orang tua, khususnya ibu, untuk bertukar informasi dan pengalaman. Dukungan komunitas dapat membantu orang tua merasa lebih percaya diri dalam mengenalkan nilai-nilai kepedulian lingkungan kepada anak.
Selain percakapan di rumah, buku anak dapat menjadi media untuk menjelaskan persoalan lingkungan yang rumit melalui cerita dan ilustrasi. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat mengamati hubungan sebab-akibat melalui situasi yang digambarkan.