Gangguan penglihatan yang tidak terkoreksi dapat membuat anak kesulitan membaca, melihat materi pelajaran, dan mengikuti kegiatan di sekolah. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu kenyamanan anak saat beraktivitas.
Dalam beberapa kasus, masalah penglihatan pada masa kanak-kanak memerlukan penanganan khusus. Ambliopia atau mata malas, misalnya, merupakan kondisi ketika perkembangan penglihatan pada salah satu atau kedua mata tidak berlangsung secara normal. Penanganan sejak dini penting untuk membantu mengoptimalkan perkembangan penglihatan.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengeluhkan pandangan kabur. Perubahan perilaku ketika membaca, menonton, atau melihat objek dari kejauhan juga perlu menjadi perhatian.
Pentingnya deteksi dini turut terlihat dari data skrining kesehatan mata Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun yang menjalani skrining pada 2025, sekitar 17 persen ditemukan mengalami gangguan penglihatan, termasuk miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Angka tersebut merupakan hasil skrining pada kelompok usia di atas tujuh tahun, bukan angka khusus anak-anak. Meski demikian, temuan itu menunjukkan pentingnya mengenali gangguan penglihatan dan memastikan masyarakat mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.