Pertama, beri jeda sekitar dua hingga tiga jam setelah makan sebelum berbaring atau tidur. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi kemungkinan isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Bagi orang yang sering mengalami gejala pada malam hari, meninggikan bagian kepala tempat tidur juga dapat membantu.
“Jeda & posisi tidur. Jeda 2 sampai 3 jam abis makan sebelum rebahan. Kalo gejala sering muncul malam, tinggikan bagian kepala tempat tidur,” ujarnya.
Kedua, jaga berat badan tetap sehat. Bagi orang dengan berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu mengurangi gejala refluks asam lambung.
Ketiga, kenali makanan dan minuman yang memicu keluhan. Setiap orang bisa memiliki pemicu berbeda sehingga mencatat makanan yang dikonsumsi dan gejala yang muncul dapat membantu menentukan hal-hal yang perlu dibatasi.
Meski latihan pernapasan diafragma dapat menjadi terapi pendukung, metode ini tidak menggantikan obat maupun penanganan medis yang diperlukan. Pemeriksaan dokter tetap penting, terutama jika gejala sering kambuh atau semakin berat.
dr Cecep mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami nyeri dada, kesulitan menelan, muntah darah, tinja berwarna hitam, muntah terus-menerus, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau gejala yang tidak kunjung membaik.
“Kapan ke dokter? Periksa kalo ada nyeri dada, susah nelen, muntah darah, BAB hitam, muntah terus, berat badan turun tanpa sebab, atau gejala gak membaik. Latihan ini bukan pengganti obat dokter,” katanya.