“Jadi ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif itu bisa meningkatkan risiko terjadinya penurunan kemampuan otak dalam bentuk Alzheimer. Selain itu ada peningkatan risiko depresi dan kecemasan,” ujarnya.
Adam mengutip studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020. Penelitian tersebut melibatkan 292 orang dewasa yang secara kognitif masih tergolong normal untuk melihat perubahan kemampuan kognitif dari waktu ke waktu.
Sebagian peserta juga menjalani pemindaian PET untuk melihat keberadaan amyloid dan tau di otak. Peneliti kemudian menggunakan kelompok lain yang terdiri dari 68 orang untuk mereplikasi temuan terkait amyloid.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat repetitive negative thinking yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan kognisi global, termasuk memori jangka pendek maupun memori yang tertunda.
Selain itu, pola berpikir negatif berulang dikaitkan dengan lebih tingginya akumulasi amyloid secara global serta tau di bagian entorhinal cortex. Wilayah tersebut merupakan salah satu bagian otak yang berkaitan dengan proses awal penyakit Alzheimer.