Repetitive negative thinking sendiri mencakup pola pikiran negatif yang terus berulang. Contohnya rumination, yakni terus memikirkan kejadian buruk di masa lalu, serta kekhawatiran berulang mengenai hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.
Meski menemukan kaitan dengan perubahan kognitif dan penanda biologis Alzheimer, penelitian tersebut tidak membuktikan overthinking secara langsung menyebabkan Alzheimer.
“Nah tapi, penelitian ini sifatnya baru mencari hubungan ya, bukan sebab-akibat,” kata Adam.
Para peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.
Adam pun mengingatkan temuan tersebut dapat menjadi perhatian untuk mulai mengelola kebiasaan berpikir negatif. “Namun tetap perlu jadi alarm untuk kita agar lebih mengelola kebiasaan berpikir negatif untuk menjaga kondisi otak,” ujarnya.