Dokter PPDS Anestesi Universitas Diponegoro Diduga Praktik 18 Jam per Hari, Kemenkes Angkat Suara

Muhammad Sukardi
Muhamad Fadli Ramadan
Dokter PPDS Anestesi diduga kerja 'overwhelmed' (Foto: iStock)

JAKARTA, iNews.id - Kematian dokter PPDS Anestesi Universitas Diponegoro mengejutkan publik. Terlebih, dokter muda itu meninggal dunia diduga dengan mengakhiri hidup atau bunuh diri.

Beredar informasi, dokter PPDS tersebut diduga korban bullying saat menjalani program studi PPDS Anestesi di RSUP Dr Kariadi Semarang, Jawa Tengah. Hal ini menjadi salah satu poin penting investigasi Kementerian Kesehatan.

Bahkan, baru-baru ini tersiar kabar dokter PPDS Anestesi di RSUP Kariadi menjalani program studi diduga dengan jam kerja berlebihan. Hal itu disampaikan akun X @bambangsuling11.

Sedikit informasi, akun X itu yang pertama kali meramaikan kasus kematian dokter muda Universitas Diponegoro ini di media sosial.

Dikatakan akun tersebut, dokter PPDS anestesi diduga harus menjalani program studi 18 jam per hari. Dokter PPDS diduga masuk pukul 06.00 WIB, pulang jam 24.00 WIB.

Editor : Muhammad Sukardi
Artikel Terkait
3 hari lalu

41 Persen Anak Indonesia Alami Gigi Berlubang, Kemenkes Siapkan Detektif Gigi

9 hari lalu

Kemenkes Dorong Medical Tourism, Ini Layanan Kesehatan Andalan Indonesia

10 hari lalu

Kasus Influenza di Indonesia Naik 51 Persen, Balita Paling Banyak Terdampak

18 hari lalu

Tak Hanya Ancam Paru-Paru, Kemenkes Ungkap Merokok Rusak Gigi dan Rongga Mulut

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal