Menurut dr Aditya, orang yang secara konsisten mempraktikkan rasa syukur cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta ketahanan mental (resilience) yang lebih baik saat menghadapi berbagai tantangan hidup.
Sebaliknya, ketika seseorang hanya berfokus pada pencapaiannya sendiri dan merasa seluruh keberhasilan diraih tanpa bantuan siapa pun, hubungan dengan orang-orang di sekitarnya berpotensi merenggang. Sikap tersebut juga dapat meninggalkan luka emosional bagi mereka yang pernah memberikan pertolongan.
"Sebaliknya, ketika seseorang selalu fokus pada dirinya sendiri dan mengabaikan kontribusi orang lain, hubungan yang dulu dekat itu bisa perlahan merenggang. Karena orang mungkin lupa apa yang kita berikan, tapi mereka jarang lupa bagaimana mereka dihargai atau diabaikan," katanya.
Dia pun mengingatkan bahwa menghargai setiap dukungan yang diterima bukan sekadar bentuk kesopanan, melainkan kebiasaan yang dapat memperkuat hubungan interpersonal sekaligus menjaga kesehatan mental dalam jangka panjang.