Dengan demikian, kabut asap tidak secara langsung menjadi penyebab pneumonia karena asap bukan merupakan kuman. Namun, paparan asap dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga mikroorganisme penyebab infeksi lebih mudah berkembang.
Prof. Erlina mengingatkan risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap juga tidak sama pada setiap orang. Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan kondisi ketika kualitas udara memburuk.
“Kuman itu tidak berdampak sama pada setiap orang. Yang paling perlu diperhatikan adalah anak-anak, lansia, serta mereka dengan asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), atau penyakit jantung. Daya tahan paru mereka lebih terbatas, sehingga gangguan ringan pun bisa cepat memberat,” katanya.