JAKARTA, iNews.id - Budaya kerja yang menuntut produktivitas tinggi kerap membuat seseorang abai dengan kelelahan ekstrem. Parahnya, kelelahan ekstrem dipercaya dapat mengancam nyawa. Benarkah?
Menurut laporan Menarini Indonesia, rasa lelah yang perlu diwaspadai adalah lelah dari gejala Myasthenia Gravis atau penyakit autoimun serius.
Dokter Spesialis Saraf RSCM dr Ahmad Yanuar Safri, Sp.S(K), menerangkan bahwa Myasthenia Gravis (MG) adalah penyakit autoimun neuromuskular kronis yang ditandai dengan kelemahan otot yang berfluktuasi.
Gejala paling umum dari penyakit autoimun MG adalah kelopak mata turun, penglihatan ganda, suara sengau, dan kesulitan menelan. "Gejala-gejala itu sering kali disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau akibat stres," ungkap dr Ahmad Yanuar, Minggu (13/7/2025).
Dia menegaskan, keterlambatan diagnosis dapat menurunkan kualitas hidup secara drastis dan meningkatkan risiko komplikasi fatal berupa krisis miastenik atau gagal napas.
"Jadi, selain dapat menyebabkan kematian, penyakit ini juga menurunkan produktivitas kerja, membatasi aktivitas sosial, dan pada akhirnya menimbulkan dampak ekonomi dan sosial bagi pasien, keluarganya, dan sistem kesehatan," kata dr Ahmad Yanuar.
Pasien MG, lanjutnya, memerlukan pengobatan yang tepat, konsisten, dan terjangkau agar dapat mempertahankan kualitas hidup yang optimal. Dengan begitu, ketersediaan dan akses pengobatan sangat penting.
"Jika akses obatnya mudah dan tersedia, pasien MG dapat diobati sampai tuntas dan bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya," ungkap dr Ahmad Yanuar.