JAKARTA, iNews.id - Remaja tidak selalu mudah menceritakan masalah yang mereka hadapi kepada orang tua. Persoalan pertemanan, rasa minder, hingga kesulitan mengendalikan emosi terkadang justru lebih mudah dibagikan kepada teman sebaya yang dianggap bisa memahami perasaan mereka.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya lingkungan pertemanan yang suportif bagi kesehatan mentalanak muda. Teman yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi tempat bercerita, terutama ketika seorang remaja belum siap mengungkapkan masalahnya kepada orang dewasa.
Namun, menjadi tempat curhat bukan berarti seorang teman harus mampu menyelesaikan semua persoalan. Remaja tetap membutuhkan dukungan orang tua, guru, dan tenaga profesional ketika menghadapi masalah yang lebih serius.
Pentingnya dukungan tersebut menjadi perhatian Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) saat mendampingi remaja di Distrik Prafi, kawasan transmigrasi di Manokwari, Papua Barat. Tim tersebut menemukan persoalan kepercayaan diri yang perlu mendapat perhatian dalam proses tumbuh kembang anak muda.
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Unair, Prof. Endang Retno Surjaningrum, S.Psi., M.AppPsych., Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa remaja di kawasan tersebut cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah berdasarkan pengamatan tim di lapangan.