Dia menegaskan, perubahan sikap tersebut bukan berarti seseorang memiliki karakter yang buruk. Sebaliknya, kondisi itu merupakan tanda bahwa tubuh dan otak belum pulih sepenuhnya akibat kurang tidur.
"Saat tubuh belum cukup pulih, otak punya kapasitas yang lebih rendah untuk pause, mendengar, dan merespons dengan jernih. Jadi, ini bukan berarti kamu orangnya buruk, bisa jadi sistem tubuh kamu memang belum cukup pulih," ujarnya.
Agar emosi tidak memicu konflik, Vishal menyarankan untuk tidak langsung bereaksi ketika menyadari kualitas tidur pada malam sebelumnya kurang baik. Dia juga mengimbau agar keputusan penting ditunda hingga kondisi tubuh kembali prima.
“Jadi, kalau semalam tidurmu kurang, jangan langsung bertindak berdasarkan semua emosimu hari itu. Ambil jeda, tunda keputusan besar, jangan langsung bereaksi saat emosi masih tinggi. Dan kalau perlu, bilang ke orang terdekat, 'Aku semalam kurang tidur nih, kalau mulai ngegas atau ngeyel, diingetin ya’,” katanya.
Selain itu, dia menyarankan agar seseorang terbuka kepada keluarga, pasangan, atau rekan kerja mengenai kondisi kurang tidur yang dialami. Menurutnya, komunikasi yang jujur dapat membantu orang lain memahami perubahan suasana hati sekaligus mengingatkan ketika mulai menunjukkan sikap defensif.
Vishal menambahkan, mengelola emosi saat tubuh sedang kelelahan sering kali hanya membutuhkan sedikit jeda sebelum merespons suatu situasi.
"Karena kadang, yang kita butuhkan cuma sedikit ruang untuk tidak langsung meledak," ujarnya.