"Pasien itu biasanya akan keluar masuk rumah sakit. Minum banyak sedikit, sesak napas. Minum banyak dikit, bolak-balik ke rumah sakit. Dia mungkin dalam setahun ada 12 kali yang hampir tiap bulan keluar masuk rumah sakit, dirawat. Nah, sampai nanti kondisi jantungnya benar-benar parah, enggak bisa keluar dari rumah sakit dan harus dipasang bantuan alat-alat yang enggak bisa dibawa pulang," jelasnya.
Dengan bantuan LVAD, aliran darah ke seluruh tubuh dapat kembali optimal sehingga pasien memiliki peluang hidup lebih lama sekaligus memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan terapi medis konvensional.
Salah satu keunggulan LVAD adalah daya tahannya yang cukup lama. Teknologi ini dirancang sebagai perangkat mekanis jangka panjang sehingga pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari.
Meski demikian, alat ini masih memiliki keterbatasan dari sisi kepraktisan. Pengguna harus membawa baterai eksternal yang terhubung melalui kabel dari area dada untuk menjaga pompa tetap bekerja.
Direktur Utama RSCM, Dr. dr. Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan LVAD bekerja layaknya pompa yang menggantikan fungsi bilik kiri jantung dalam mengalirkan darah menuju aorta dan seluruh tubuh.