"Alat ini semacam pompa air, jadi di bilik kiri mompanya ke aorta, ke seluruh tubuh, itu digantikan oleh alat ini. Dengan begitu, kita enggak perlu lagi transplan jantung dan umur pakai alat ini bisa lebih dari sembilan tahun," ujar dr Supriyanto.
Ia berharap kehadiran teknologi tersebut dapat memperkuat layanan kardiovaskular berteknologi tinggi di Indonesia sekaligus menjadi sarana pelatihan bagi dokter bedah jantung dari berbagai daerah.
Perkembangan teknologi LVAD diperkirakan tidak berhenti sebagai alat bantu permanen. Pendiri dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSPAN.ai, Dr. Wai Siang Yu, mengungkapkan bahwa saat ini tengah dikembangkan konsep bridge to recovery.
Melalui pendekatan tersebut, LVAD dipadukan dengan teknologi regeneratif seperti sel punca (stem cell) untuk membantu jantung memulihkan fungsinya secara bertahap.
"Jadi, perkembangannya dimulai dari bridge therapy, lalu menjadi destination therapy, dan kini berkembang lagi menjadi bridge to recovery di mana jantung terpicu untuk membentuk selnya sendiri," kata dr Wai Siang Yu.
"Jantung dapat memanggil kembali ingatan ototnya (muscle memory) dan membentuk sel-sel jantung baru di dalam tubuh, sehingga alat tersebut nantinya bisa dilepas. Jadi, ini adalah sebuah terobosan (breakthrough)," tambahnya.