Tak hanya perubahan fisik, gejala psikologis juga kerap muncul. Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc mengatakan perubahan emosi saat perimenopause merupakan respons biologis yang normal.
"Perimenopause bukan membuat perempuan menjadi lebih sensitif tanpa sebab. Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup," ujarnya.
Tekanan tersebut bisa berasal dari berbagai kondisi, seperti tuntutan pekerjaan, anak yang mulai mandiri, orang tua yang menua, hingga perubahan hubungan sosial.
Untuk membantu mengelola stres, Leonita menyarankan perempuan menerapkan metode 'STOP', yakni berhenti sejenak (Stop), menarik napas perlahan (Take a breath), mengamati kondisi diri (Observe), lalu memilih respons yang paling membantu (Proceed).
"Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit," katanya.
Selain mendapatkan pendampingan medis, perempuan juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga kualitas tidur, serta mengelola stres agar gejala perimenopause dapat dikendalikan dengan lebih baik.
Dengan meningkatnya pemahaman mengenai perimenopause, diharapkan perempuan tidak lagi menganggap berbagai perubahan pada tubuh sebagai hal yang harus ditanggung sendirian, melainkan sebagai fase alami yang dapat dijalani dengan sehat, nyaman, dan tetap produktif.