Lewat edukasi ini, anak-anak diajarkan memahami isi satu piring makan. Di dalamnya harus ada karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk pertumbuhan, serta vitamin dan mineral dari sayur dan buah.
Pemahaman tersebut diharapkan membuat anak lebih selektif memilih makanan, baik di kantin sekolah maupun saat di rumah. Bahkan, Doddy berharap kebiasaan baik itu menular ke lingkungan keluarga.
"Mudah-mudahan anak-anak ini bisa jadi agen perubahan di rumah," katanya.
Fokus pada anak sekolah dipilih sebagai strategi jangka panjang untuk memutus rantai masalah gizi. Doddy menyebut pendekatan ini mencakup sekitar 8.000 hari pertama kehidupan, atau hingga anak berusia 19 tahun.
"Supaya sebelum berkeluarga, mereka sudah paham pentingnya gizi dan tahu makanan apa yang dibutuhkan tubuh," ujarnya.
Ia optimistis, jika edukasi gizi dilakukan secara konsisten, generasi Alpha Indonesia bisa tumbuh lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi masa depan. Dengan begitu, Indonesia emas di 2045 bisa tercapai.