"Otaknya dengan presisi area otak mana yang perlu distimulasi dengan alat yang namanya TMS (Transcranial Magnetic Stimulation), itu bisa menghasilkan yang tadinya tidak bisa berkomunikasi menjadi lebih baik,” tuturnya.
"Bukan dengan obat-obatan, tapi dengan presisi tepat pada area yang mau dicapai itu," lanjut Prof Yusak.
Perkembangan ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam dunia neurosains. Diagnosis dan tata laksana penyakit saraf kini semakin diarahkan pada pendekatan yang lebih detail, termasuk dengan memanfaatkan teknologi untuk memahami kondisi otak secara lebih mendalam.
Namun, penggunaan TMS bukan berarti seluruh pasien afasia akan otomatis kembali berbicara normal. Kondisi setiap pasien dapat berbeda dan penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab, lokasi gangguan pada otak, serta kondisi klinis masing-masing.
Perkembangan teknologi neurosains juga membuka peluang baru bagi pasien stroke yang mengalami gangguan komunikasi.