Menurut Henry, stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol yang berpotensi memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap kesehatan tulang apabila berlangsung dalam jangka panjang.
"Yang terakhir, stres kurangi. Karena orang kalau stres melulu, hormon stres naik, tekanan darah naik, gula darah naik, tulang lu tambah keropos," pungkasnya.
Melalui konsep D-E-S-S, dr Henry mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tulang membutuhkan konsistensi dan tidak bisa hanya mengandalkan satu kebiasaan.
Pola makan bergizi dengan protein yang cukup, kombinasi olahraga kardio dan latihan beban, tidur berkualitas, serta pengelolaan stres perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan tersebut sebaiknya mulai diterapkan sejak usia muda. Sebab, massa tulang umumnya mencapai puncaknya pada awal usia 30-an sebelum kemudian mengalami penurunan secara alami seiring bertambahnya usia.
Dengan membangun kebiasaan sehat sejak dini, seseorang dapat membantu menjaga cadangan kekuatan tulang untuk menghadapi proses penuaan dan mengurangi risiko osteoporosis di kemudian hari.