Yang menjadi perhatian, 7 dari 38 pasien dengan koinfeksi meninggal dunia, atau sekitar 18,4 persen.
Namun, angka tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai angka kematian akibat ALTNV. Pasalnya, seluruh pasien yang meninggal juga mengalami infeksi DBV.
Para peneliti menyebut koinfeksi ALTNV dan DBV berkaitan dengan kondisi penyakit yang lebih berat, tetapi penelitian tersebut belum membuktikan bahwa ALTNV secara langsung menyebabkan kematian pasien.
ALTNV ditemukan setelah peneliti menyelidiki pasien dengan penyakit demam dan riwayat paparan kutu yang memiliki gejala mirip SFTS, tetapi tidak terbukti terinfeksi DBV.
Dari 3.163 pasien yang diperiksa, 10,4 persen dinyatakan positif ALTNV berdasarkan keberadaan RNA virus atau antibodi IgM. Di antara pasien yang negatif DBV, 15,1 persen ternyata positif ALTNV.