Konser ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan 30 tahun album Romanza, yang dirilis pada 1997 dan menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan karier musiknya.
Kemegahan pertunjukan juga semakin terasa dengan perpaduan musik internasional dan pertunjukan budaya Indonesia. Sejumlah penari turut menampilkan tarian tradisional Sluku-Sluku Bathok di tengah rangkaian acara.
Kehadiran Andrea Bocelli di Borobudur menjadi pengalaman istimewa bagi para penonton. Mereka tidak hanya menikmati suara khas sang tenor, tetapi juga merasakan atmosfer pertunjukan musik kelas dunia dengan latar salah satu warisan budaya kebanggaan Indonesia.
Konser tersebut pun memperlihatkan bagaimana Candi Borobudur dapat menjadi panggung bagi pertunjukan seni berskala internasional sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
Sebelumnya, rencana konser Andrea Bocelli di Borobudur sempat menjadi perbincangan publik. Penyelenggaraannya menuai penolakan dari sejumlah pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menyuarakan keberatan terhadap penggunaan kawasan Candi Borobudur sebagai lokasi pertunjukan.
Meski demikian, polemik tersebut tidak membuat konser batal terlaksana. Andrea Bocelli tetap tampil di hadapan para penonton yang telah menantikan pertunjukan musik internasional tersebut.