Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebab gangguan pernapasan. Dalam kondisi tertentu, anak juga dapat menjalani pemeriksaan tidur atau sleep study untuk memantau pola pernapasan dan kadar oksigen selama tidur.
Orang tua juga dapat merekam video ketika anak tidur apabila terdapat episode mendengkur keras, jeda napas atau suara seperti tersedak. Rekaman tersebut dapat membantu dokter memahami keluhan yang terjadi di rumah.
Tidur bukan sekadar waktu bagi anak untuk beristirahat. Kualitas tidur berkaitan dengan kesehatan, suasana hati, kemampuan belajar dan aktivitas anak pada siang hari.
Karena itu, kebiasaan mendengkur keras atau bernapas melalui mulut yang terjadi terus-menerus sebaiknya menjadi sinyal bagi orang tua untuk lebih memperhatikan kondisi anak.
Pengalaman Kaba menjadi pengingat bahwa masalah pernapasan pada anak bisa memiliki penyebab yang berbeda-beda. Pada kasus Kaba, Zaskia menyebut alergi berat dan kondisi tulang hidung bagian dalam yang bengkok menjadi bagian dari masalah yang dialami.
Artinya, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak yang mendengkur membutuhkan operasi. Yang paling penting adalah mengenali tanda-tandanya dan mencari tahu penyebabnya melalui pemeriksaan medis.
Jika anak tidur dengan mulut terbuka, mendengkur secara rutin, atau menunjukkan tanda kesulitan bernapas ketika tidur, jangan sekadar menganggapnya sebagai kebiasaan. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut hanya gangguan sementara atau justru membutuhkan penanganan lebih lanjut.