Dia melanjutkan, "Oleh karena itu, kehadiran produk lokal hari ini adalah langkah luar biasa untuk memutus ketergantungan tersebut."
Taruna menjelaskan, BPOM melakukan pengawasan secara menyeluruh sejak tahap pengembangan hingga vaksin digunakan masyarakat. Pengawasan tersebut meliputi pelaksanaan uji klinik di Indonesia, pemeriksaan pemenuhan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pemantauan sistem rantai dingin (cold chain), hingga farmakovigilans untuk memantau keamanan vaksin setelah dipasarkan.
Berdasarkan hasil uji klinik, Bio-TCV menunjukkan profil keamanan dan efektivitas yang baik. Hampir 100 persen subjek penelitian yang terdiri dari bayi, anak, dan orang dewasa mengalami peningkatan kadar antibodi hingga empat kali lipat dibandingkan sebelum vaksinasi. Respons imun tersebut juga bertahan dengan baik hingga satu tahun setelah imunisasi.
BPOM juga mencatat efek samping yang muncul selama uji klinik umumnya bersifat ringan hingga sedang. Keluhan yang paling sering dilaporkan antara lain nyeri pada lokasi suntikan, demam, dan nyeri otot, yang umumnya dapat membaik dengan sendirinya.
Vaksin Bio-TCV disetujui untuk diberikan kepada bayi mulai usia 6 bulan hingga orang dewasa dalam dosis tunggal 0,5 mL melalui injeksi intramuskular. Perlindungan optimal mulai terbentuk sekitar tiga hingga empat minggu setelah vaksinasi.