Kehadiran Bio-TCV diharapkan dapat memperluas perlindungan terhadap kelompok balita yang selama ini belum memperoleh perlindungan optimal dari vaksin tifoid jenis sebelumnya. Langkah preventif melalui vaksinasi juga dinilai penting untuk menekan tingginya angka kasus demam tifoid di Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat sekitar 914.000 kasus suspek tifoid. Sementara hingga minggu ke-16 tahun 2026, jumlahnya telah mencapai 266.869 kasus sehingga menempatkan tifoid sebagai salah satu dari lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi yang dipantau pemerintah.
Selain mencegah infeksi bakteri Salmonella typhi, vaksinasi juga diharapkan membantu mengurangi penggunaan antibiotik yang berlebihan pada pasien tifoid. Dengan demikian, risiko munculnya resistansi antimikroba atau bakteri yang kebal terhadap antibiotik dapat ditekan.