"Saya itu kalau ngecek dia tuh menggunakan Snapchat. Karena Snapchat tuh bisa saya lihat dia di mana, dia ada di mana, dia di rumah, dia di sekolah, dia apa, tuh ketahuan. Dia lagi shopping ketahuan, ke hutan-hutan pun juga ketahuan," ucapnya.
Diah mengatakan pesan WhatsApp yang dikirim kepada Marciano terkadang baru mendapat balasan beberapa hari kemudian. Namun, sang putra akan segera merespons jika Diah memberikan tanda pesan tersebut bersifat mendesak.
"Kalau menggunakan WA nggak pernah dibalas. Bisa 3 hari kemudian gitu. Kalau nggak, saya ngomongnya 'Urgent!', dia langsung 'Mama, ada apa Ma?'. Aku sibuk, katanya. Memang agak repot karena perbedaan waktunya gila, 14 jam," katanya.
Cara Diah memantau anaknya ternyata sempat mendapat protes dari Marciano. Meski begitu, Diah mengaku tetap sulit menghilangkan rasa khawatir karena sang putra berada jauh dari Indonesia.
"Oh iya, (anak) sangat protes! Makanya dia udah tahu siasatnya, didiemin aja. Terus kalau nggak dia suka gini, 'Mami jangan terlalu kayak gitu dong'. Tapi gimana ya, saya sebagai orang tua kan suka waswas ya, jauh banget gitu," ujarnya.
Bagi Diah Permatasari, rasa khawatir menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai orang tua. Meski anak sudah dewasa dan tinggal jauh di Amerika Serikat, dia tetap ingin memastikan kondisi sang putra melalui cara yang menurutnya bisa memberikan rasa tenang.