Dari situ, dia membangun model yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir. Purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, kemudian dikembangkan menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Produk berbahan purun tersebut kini telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel dan mulai digunakan sejumlah pelanggan korporasi untuk kebutuhan merchandise, acara hingga hadiah karyawan.
Bagi Alexandra, peningkatan nilai suatu material tidak bisa dipisahkan dari orang-orang yang berada di balik proses produksinya.
"Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil," katanya.
Pendekatan itu membuat keberlanjutan tidak hanya dilihat dari bahan yang digunakan, tetapi juga dari bagaimana manfaat ekonomi dibagikan kepada masyarakat yang mengolahnya.