Tak Disangka, Rumput Purun dari Rawa Kalimantan Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi
"Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang," ujar Idang.
Cerita tersebut menggambarkan bagaimana keterampilan tradisional yang sebelumnya dilakukan untuk menghasilkan produk sehari-hari dapat memiliki nilai ekonomi lebih besar ketika terhubung dengan desain dan akses pasar yang lebih luas.
Saat ini, Gaia Weave bermitra dengan 126 perajin yang tersebar di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 6.000 unit per bulan.
Kemitraan tersebut disebut turut meningkatkan pendapatan para perajin sekitar 100 hingga 150 persen. Jika sebelumnya pendapatan berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan, kini sebagian perajin dapat memperoleh sekitar Rp2,7 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Gaia Weave mulai dikembangkan Alexandra pada 2025 setelah dia mengunjungi Kalimantan Selatan dan melihat adanya kesenjangan antara keterampilan perajin purun dengan akses terhadap pasar yang konsisten dan bernilai tambah.