Menurut Massive Attack, seruan "Free Palestine" yang menggema selama konser bukan berasal dari mereka, melainkan muncul secara spontan dari para penonton.
Meski dilarang kembali tampil di Singapura, Massive Attack menegaskan tidak menyesali aksi tersebut. Band ini justru mengaku bangga dapat menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina bersama para penggemarnya di Singapura.
"Kami bangga dapat berbagi momen spontan itu bersama para penggemar di Singapura yang merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina yang hingga kini masih hidup di bawah pendudukan ilegal, apartheid, dan genosida," tulis mereka.
Sikap Massive Attack terhadap isu Palestina bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, grup asal Bristol itu dikenal sebagai salah satu musisi internasional yang paling vokal mendukung hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
Salah satu personelnya, Robert "3D" Del Naja, sempat ditangkap polisi pada April lalu saat mengikuti aksi demonstrasi di London yang mendukung kelompok aktivis Palestine Action, organisasi yang telah ditetapkan pemerintah Inggris sebagai kelompok teroris. Saat aksi berlangsung, Del Naja terlihat membawa poster bertuliskan, "Saya menentang genosida, saya mendukung Palestine Action."