Sri Mulyani Indrawati bertemu Janet Yellen didampingi Dubes RI untuk AS Rosan Roeslani (Foto: Instagram/smidrawati)
Anton Suhartono

WASHINGTON, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan kepada Sri Mulyani Indrawati tak akan ada bisnis seperti biasanya untuk Rusia di kancah ekonomi global setelah invasinya terhadap Ukraina.

Yellem bertemu Sri Mulyani di Washington DC, Selasa (19/4/2022), menjelang pertemuan para menteri keuangan anggota G20 serta pertemuan tahunan Bank Dunia/Dana Moneter Internasional (IMF).

Dalam pernyataan yang dirilis Departemen Keuangan AS, Rabu (20/4/2022), Yellen mengatakan kepada Sri Mulyani, AS akan terus bekerja sama dengan Indonesia selaku pemimpin Presidensi G20 untuk memajukan para anggota.

"Menteri Yellen dengan tegas mengecam invasi brutal Rusia ke Ukraina dan menekankan tidak akan ada bisnis seperti biasa lagi bagi Rusia di ekonomi global," bunyi pernyataan, dikutip dari Reuters.

Yellen juga menekankan, AS akan melanjutkan kerja sama dalam solidaritas dengan Indonesia untuk memajukan bisnis penting G20, termasuk mengatasi dampak negatif invasi Rusia terhadap ekonomi global.

Sementara itu Sri Mulyani juga melakukan pertemuan dengan berbagai pihak dalam kunjungannya ke Washington DC, di antaranya dengan Presiden dua Lembaga keuangan internasional yaitu Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia.

Dalam pertemuan dengan Presiden ADB Masatsugu Asakawa, Sri Mulyani mendiskusikan upaya-upaya konkret untuk segera mewujudkan mekanisme transisi energi melalui percepatan penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara dan secara bersamaan, mengembangkan energi alternatif terbarukan.  

"Transisi energi merupakan salah satu target capaian dari Presidensi G20 Indonesia," ujar Sri. 

Sementara dalam pertemuan dengan Presiden Bank Dunia David Malpass, dia membicarakan mengenai peningkatan kerja sama antara Bank Dunia dan Indonesia. Dalam hal ini, Bank Dunia telah menjadi mitra pemerintah dalam proses reformasi kebijakan di Indonesia.

"Saat ini, pemerintah Indonesia sedang melakukan reformasi kebijakan fiskal, antara lain dengan menata dan memperkuat hubungan pemerintah pusat dan daerah agar lebih sinergis dan seimbang," kata dia. 



Editor : Anton Suhartono

BERITA TERKAIT