Peneliti membandingkan hasil tersebut dengan pemindaian dari 48 subjek yang sebanding dalam dua kelompok kontrol. Perbedaannya secara statistik signifikan dan berhubungan dengan materi otak serta otak kecil, bagian yang mengendalikan gerakan.
Verma mengatakan, sangat penting untuk mengikuti para diplomat dan keluarga mereka dari waktu ke waktu untuk melihat apakah perubahan ini berkembang atau berubah.
Menanggapi laporan itu, Havana kembali menyangkal tanggung jawab atas peristiwa itu.
"Studi oleh para profesor UPenn tidak memungkinkan kesimpulan ilmiah yang jelas dan final yang sudah tercapai," kata Mitchell Valdes-Sosa, kepala Neuroscience Center of Cuba.
"Penelitian itu tidak menunjukkan, bertentangan dengan apa yang menjadi spekulasi, bahwa kelompok diplomat menderita kerusakan otak selama mereka tinggal di Kuba," ujar Valdes-Sosa.
Seorang pejabat senior kementerian luar negeri yang bertanggung jawab atas urusan AS, Johana Tablada, hingga kini tidak ada bukti serangan apa pun terhadap para diplomat AS.
Tablada juga mendesak Gedung Putih untuk berhenti menggunakan masalah ini sebagai alasan untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Kuba.