Negara-negara Teluk menghadapi dilema. Hubungan keamanan dengan Washington membuat mereka berpotensi menjadi sasaran Iran jika perang kembali pecah. Namun, mereka juga khawatir dampak konflik akan merusak infrastruktur, perdagangan, dan pasokan energi.
Diplomasi Masih Berjalan di Tengah Ancaman Perang
Di tengah saling ancam, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Qatar dan Pakistan masih berupaya menjadi perantara untuk mengakhiri konflik.
Reuters melaporkan pada 30 Oktober, militer Pakistan menyatakan optimistis secara hati-hati terhadap upaya mediasi antara Washington dan Teheran.
Juru Bicara Militer Pakistan Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry menyebut Kepala Staf Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir telah dua kali mengunjungi Teheran pada Oktober untuk membahas perkembangan kawasan.
Sementara itu, Qatar dilaporkan membawa rancangan kesepakatan baru untuk mengakhiri perang. Namun, seorang pejabat senior Iran sebelumnya menyebut gagasan yang disampaikan Doha masih belum dapat diterima Teheran.
Di sisi lain, Trump masih membuka kemungkinan melanjutkan operasi militer jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai.
Kondisi tersebut membuat Timur Tengah berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Iran bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru, sementara negara-negara kawasan berupaya mencegah konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan itu kembali meluas.