Alih-alih hanya menyimpan uang atau membelanjakannya, Ortega memilih menginvestasikan kembali sebagian dividen tersebut ke properti dan berbagai sektor lain. Strateginya berfokus pada aset berkualitas tinggi di lokasi strategis yang berpotensi menghasilkan pendapatan sewa dalam jangka panjang.
Ortega juga cenderung membeli properti menggunakan uang tunai dan menghindari penggunaan utang dalam jumlah besar. Pendekatan ini membuat perusahaan investasinya memiliki tingkat kewajiban yang relatif rendah dibandingkan total aset.
Perjalanan Ortega membangun kekayaan tidak dimulai dari kehidupan bergelimang harta. Dia merupakan putra seorang pekerja kereta api dan mulai bekerja di toko pakaian ketika berusia 14 tahun.
Pada 1960-an, Ortega bersama istri pertamanya, Rosalía Mera, mulai memproduksi pakaian dari rumah mereka. Keduanya kemudian mendirikan Zara pada 1975, sebelum membangun Inditex pada 1985.
Bisnis tersebut berkembang menjadi salah satu grup ritel fesyen terbesar di dunia. Selain Zara, Inditex juga menaungi sejumlah merek lain, seperti Pull&Bear, Massimo Dutti, Bershka, dan Stradivarius.
Keberhasilan bisnis fesyen itu kemudian menjadi fondasi bagi Ortega untuk memperluas investasinya ke sektor properti, energi, hingga infrastruktur. Kini, dia tidak hanya dikenal sebagai pendiri Zara, tetapi juga sebagai salah satu pemilik portofolio properti terbesar di dunia.